Mulai Belajar

Setelah beberapa lama, akhirnya saya memutuskan untuk belajar (lagi) bagaimana menjadi bangga sebagai bangsa Indonesia. Ya saya memutuskan untuk belajar bagaimana menjadi bangga sebagai bangsa Indonesia (lagi).

Tapi kali ini dengan cara yang sederhana saja.
Saya mulai dengan tidak akan buang sampang sembarangan. Tidak asal buang bungkus makanan di bis yang saya tumpangi atau di pinggir jalan. Saya akan memilih menyimpan plastik permen di dalam saku sendiri hingga bisa membuangnya langsung ke tempat sampah dari pada asal tinggal di tempat dimana saya berada.
Sederhana, jadi saya yakin bisa.

Teman, silahkan memulainya dengan sederhana juga.
Read more

Running in (Time)

Sekali waktu menonton Cinemax atau HBO, cobalah perhatikan tulisan di pojok kanan atas layar televisi kabel anda. Beberapa rangkai kata dan angka di sana selalu saja menarik minat saya.
Hard Target
Running in 20.05
Ini hanya sebuah sebuah contoh, Hard Target itu adalah judul film yang akan tayang dalam waktu 20.05 menit lagi. Dan hitungan menit ini akan terus bergerak mundur. Penonton diberi tahu berapa waktu lagi film tersebut dimulai. Menarik.
Tapi ada yang lebih menarik lagi.
Sudah sekian lama saya menonton, belum pernah sekalipun hitungan waktu mundur itu bohong. Selalu saja, ketika menunjukkan 0.0 detik lagi, Film dimulai. Dan yang membuatnya semakin menarik dan membuat saya kagum adalah, tidak ada tayangan yang dipotong agar film tersebut dimulai sesuai waktunya. Tidak seperti tayangan televisi kita, yang seketika berganti ketika jadwal yang lain harus tayang. Atau molor dari waktu yang tayang yang telah ditentukan.

Analisis sederhananya, semua ini bukanlah sesuatu yang luar biasa. Karena setiap tayangan acara atau iklan, yang dalam format digital, jelas-jelas sudah diketahui running time-nya. Jadi tinggal dijumlahkan saja running time setiap tayangan acara atau iklan sebelum tayangan utama yang dimaksud. Gampang bukan?

Tapi mengapa ini menjadi satu hal yang langka dalam diri kita. Di bandingkan dengan bangsa barat, prestasi kita dalam menghargai waktu adalah sangat rendah. Padahal "hanya" dengan mendisiplinkan diri untuk selalu tepat waktu _menghargai diri sendiri dan orang lain_ begitu banyak hal besar yang bisa kita berbuat.

Dengan memakai tools dari teori Law of Attraction-nya Michael Losier, saya berkata pada diri sendiri "Saya sedang berproses untuk menjadi orang yang tepat waktu _menghargai waktu_"
Dan, semoga juga anda.
Read more

Don't be Afraid to Work with the Best

The best people can be difficult. They are single-minded, they have tunnel vision. That’s what makes them good. They are reluctant to compromise. They can be intimidating, especially to the young, but if you approach them with an attitude that you want to do something well, they will respond positively.
Because they want to do something well too.
And if you are clear about what you want and strong about getting it, thought there maybe arguments, they will respect you (if not at the time, afterwards – I didn’t say it was going to be easy). The chances of you coming away with a superior job is not guaranteed, but it’s greater than if you had worked with Mr. Average Nice Guy.[2]


Untuk kesekian kalinya para mahasiswa junior saya di Teknik Mesin, ITB bertanya tentang bagaimana pengalaman saya sewaktu menjadi mahasiswa bimbingan tugas akhir dengan Bapak Dr. Ir. Taufiq Rochim. Di kalangan mahasiswa (bahkan juga bagi dosen-dosen lainnya), beliau terkenal dengan imej yang keras dan tanpa kompromi. Hal ini membuat hanya sedikit sekali mahasiswa Teknik Mesin berani mengambil bimbingan tugas akhir dengan beliau, walaupun nyata-nyata apa yang disampaikan dan diajarkan adalah hal-hal yang tak terbantahkan kebenarannya. Berlanjut, banyak orang malah kehilangan respek terhadap sikap beliau. Bahkan ketika saya memutuskan untuk mengambil bimbingan tugas akhir dengan beliau, cukup banyak teman-teman kuliah saya yang mempertanyakannya.

Orang terbaikkah saya _sama seperti beliau_ sehingga beliau bersedia menerima saya sebagai mahasiswa bimbingannya? Tidak juga, karena secara akademik, indeks prestasi saya tidak termasuk peringkat teratas. Namun keinginan yang kuat dan ketekunan yang saya tunjukkan selama berinteraksi dengan beliau mendapatkan satu kredit poin tersendiri dari beliau.

Bekerjasama dengan (atau belajar dari) orang-orang yang terbaik memang bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Banyak sekali parameter dan standar yang harus kita ikuti. Acapkali ego kita terusik. Kritikan-kritikan menjadi menu utama yang kita dapatkan setiap harinya. Namun yakinlah, semua ini tidak akan ada artinya dibandingkan dengan hasil yang nantinya akan kita dapatkan. Ini adalah cara terbaik untuk juga menjadi orang yang terbaik, orang terhebat. Paling tidak itulah yang kini saya rasakan setelah sekitar dua tahun lebih berinteraksi dengan Bapak Dr. Ir. Taufiq Rochim (yang kapasitasnya sudah sekelas Prof, bahkan bisa diklaim sebagai Profesor bidang Teknik Mesin terbaik di Indonesia saat ini _jika tidak setuju silahkan datang ke Lab. Metrologi Industri ITB, prove it your self_ ), ataupun dengan Ir. Bambang Utomo, Manager Maintenance PTDI, salah satu insinyur bidang teknik produksi dan pemesinan Indonesia yang berkelas dunia. Dua orang tersebut adalah sedikit contoh orang-orang terbaik dan terbaik yang saya pilih sebagai rekan kerja (atau sumper pelajaran) saya.

Saya tidak akan pernah berhenti untuk bekerjasama dengan orang-orang terbaik. Dan itulah yang kini saya lakukan dengan bergabung bersama INSPIRIT.
Sungguh, saya bersemangat.

So, people. Don’t be afraid to work with the best, and be the best.
Read more

Bibiliography

[1] Arden, Paul. It’s not How Good You are, it’s How Good You want to be. London: Phaidon Press, 2006, pp.30-31.

[2] Arden, Paul. It’s not How Good You are, it’s How Good You want to be. London: Phaidon Press, 2006, pp.86-87.
Read more

Do not Cover Your Ideas

You will remember from the school other students preventing you from seeing their answers by placing their arm around thei exercise book or exam paper. It is the same at work, people are secretive with ideas. 'Don't tell them that, they'll the credit for it.' The problem with hoarding is you end up living off your reserves. Eventually you'll became stale. If you give away everything you have, you are left with nothing. This forces you to look, to be aware, to replenish. Somehow the more you give away the more comes back to you. Ideas are open knowledge. Don't claim ownership. (Paul Arden)[1]
Give away everything you know, and more will come back to you
Read more